BOGOR SATU – Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Kementerian Kehutanan menegaskan komitmen mempererat kolaborasi dalam menjaga kawasan konservasi, khususnya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), bertepatan dengan peringatan hari jadinya yang ke-34. Kegiatan tersebut digelar di Bumi Perkemahan Sukamantri, Tamansari, Kamis (26/2).
Wakil Bupati Bogor, Jaro Ade, hadir bersama Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, didampingi Camat dan Forkopimcam Tamansari, jajaran Kementerian Kehutanan, Pemkab Bogor, Balai TNGHS, perwakilan masyarakat adat kasepuhan, unsur dunia usaha, akademisi, peneliti, serta organisasi pendamping masyarakat.
Dalam sambutannya, Rohmat Marzuki menegaskan bahwa TNGHS merupakan hutan tropis pegunungan terluas di Pulau Jawa dengan posisi strategis, baik secara ekologis maupun ekonomi. Kawasan ini menjadi daerah tangkapan air vital yang menyuplai kebutuhan jutaan masyarakat di Jawa Barat dan Banten, dengan 115 sungai berhulu dari kawasan tersebut.
Selain fungsi hidrologis, TNGHS juga menjadi rumah bagi satwa kunci yang dilindungi seperti elang jawa, owa jawa, dan macan tutul jawa. Nilai konservasinya diakui tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.
Dalam arahannya, Wakil Menteri Kehutanan menekankan tiga pilar pengelolaan kawasan konservasi ke depan, yakni penguatan perlindungan serta penegakan hukum kehutanan, perluasan kolaborasi multipihak, dan penguatan pendekatan berbasis sains yang melibatkan partisipasi masyarakat.
Pemerintah pusat, lanjutnya, juga berkomitmen menertibkan praktik ilegal di kawasan hutan melalui penguatan satuan tugas serta peningkatan kapasitas Polisi Kehutanan dengan dukungan teknologi.
Momentum ini sekaligus menjadi penegasan bahwa perlindungan kawasan konservasi tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Bupati Jaro Ade menyampaikan salam hormat dari Bupati Bogor, Rudy Susmanto, serta apresiasi atas sinergi yang telah terjalin antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kelestarian hutan di wilayah selatan Kabupaten Bogor. Ia menegaskan, keberadaan TNGHS dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan.
“Tanpa kawasan konservasi ini, mungkin Bogor dan sekitarnya tidak dapat menikmati kualitas udara dan kesejukan seperti sekarang. Ini adalah benteng ekologis yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembenahan zonasi kawasan hutan yang masih menyisakan tumpang tindih antara lahan masyarakat dan peta kawasan konservasi. Pembenahan tersebut diharapkan dilakukan secara bertahap dan partisipatif guna mencegah konflik sosial.
Pemkab Bogor, lanjutnya, tengah menggencarkan program pembangunan hutan kota sebagai bagian dari visi pembangunan berkelanjutan. Setiap kecamatan ditargetkan memiliki minimal satu hektare hutan kota, disertai gerakan penanaman ribuan pohon di desa-desa yang diharapkan dapat bersinergi dengan pengelolaan kawasan konservasi.
Dengan semangat kolaborasi, Pemkab Bogor dan Kementerian Kehutanan optimistis kawasan konservasi seperti TNGHS akan tetap menjadi benteng ekologis sekaligus sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Penulis : Alzio
Editor : Arzian









